Salford City Berubah Total: Beckham, Neville dan Scholes Bidik Premier League, Bukan Sekadar Klub Kecil Inggris
![]() |
| Salford City sedang memasuki fase baru dalam perjalanan panjangnya di sepak bola Inggris. (Foto: Dok/Ist). |
Nama Salford City memang tidak sebesar Manchester United, Manchester City, Liverpool atau klub-klub elite Inggris lainnya. Namun, sejak kedatangan sejumlah legenda Manchester United yang tergabung dalam Class of '92, klub asal Greater Manchester tersebut perlahan berubah menjadi salah satu proyek sepak bola paling menarik di Inggris.
David Beckham, Gary Neville dan Paul Scholes menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Setelah perubahan kepemilikan dan restrukturisasi klub, arah Salford City kini semakin jelas: membangun klub yang kompetitif, memiliki identitas sendiri, serta mempunyai infrastruktur yang mampu menopang ambisi jangka panjang.
Bukan lagi sekadar proyek mantan pemain Manchester United.
Dari Klub Non-League Menuju Mimpi Premier League
Perubahan Salford City sebenarnya sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa klub tersebut tidak ingin berhenti hanya karena berhasil naik ke Football League.
Paul Scholes, yang kini berperan sebagai penasihat sepak bola klub, bahkan berbicara terbuka mengenai ambisi membawa Salford menuju Championship dan pada akhirnya Premier League.
Menurut Scholes, target jangka panjang tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Ia melihat perjalanan Bournemouth sebagai salah satu contoh bagaimana klub yang sebelumnya bukan kekuatan utama sepak bola Inggris dapat berkembang hingga mencapai Premier League.
Salford saat ini masih berada di League Two, kasta keempat dalam sistem kompetisi sepak bola Inggris. Karena itu, jalan menuju Premier League masih sangat panjang.
Namun, ambisi tersebut menunjukkan perubahan cara pandang di tubuh klub.
Salford tidak lagi hanya berpikir mengenai bagaimana bertahan di Football League. Mereka ingin membangun struktur klub yang memungkinkan promosi terjadi secara berkelanjutan.
![]() |
| Sumber: AI. |
David Beckham dan Gary Neville Ikut Membentuk Era Baru Salford City
Keterlibatan nama-nama besar menjadi salah satu alasan Salford City terus mendapat perhatian.
David Beckham dan Gary Neville mengambil alih kendali klub pada 2025 melalui konsorsium baru yang membeli kepemilikan dari anggota Class of '92 lainnya. Perubahan tersebut kemudian diikuti sejumlah langkah besar untuk memperkuat identitas dan struktur klub.
Bagi Beckham dan Neville, Salford bukan sekadar investasi sepak bola.
Klub ini memiliki hubungan emosional dengan kawasan Greater Manchester dan menjadi bagian dari proyek yang telah mereka bangun sejak 2014.
Namun, era baru tersebut juga membawa tantangan. Salford harus membuktikan bahwa keterlibatan mantan bintang Manchester United tidak hanya menghasilkan popularitas, tetapi juga mampu melahirkan klub yang mempunyai identitas dan prestasi sendiri.
Karena itu, perubahan identitas klub menjadi salah satu langkah penting.
Kembali ke Warna Oranye, Identitas Lama Salford City Dihidupkan Lagi
Salah satu perubahan paling mencolok adalah keputusan Salford City untuk kembali menggunakan warna oranye.
Seperti dikutip BBC Selama sekitar 12 tahun, Salford identik dengan warna merah setelah kedatangan Class of '92 pada 2014. Namun, memasuki musim 2026/27, klub memutuskan menghidupkan kembali warna oranye yang menjadi bagian dari sejarah mereka.
Keputusan tersebut tidak dibuat sepihak.
Klub melibatkan para pendukung melalui proses konsultasi dan pemungutan suara. Hasilnya, 77,1 persen suporter memilih agar warna utama klub kembali menjadi oranye.
Langkah tersebut menjadi simbol bahwa Salford ingin memasuki masa depan tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Beckham juga disebut menjadi salah satu pihak yang mendukung kembalinya warna tersebut karena oranye dianggap lebih merepresentasikan identitas asli Salford.
Dengan demikian, perubahan warna bukan hanya persoalan desain jersey.
Ini merupakan bagian dari strategi klub untuk membangun identitas yang berbeda dari bayang-bayang Manchester United dan para pemiliknya.
Logo Baru Salford City: Singa, Mawar dan Sejarah Kota
Selain jersey, Salford City juga memperkenalkan logo baru yang mulai digunakan pada musim 2026/27.
Crest tersebut dirancang untuk menggabungkan unsur sejarah Salford dengan tampilan yang lebih modern. Salah satu elemen utamanya adalah sosok singa, sementara lingkaran pada logo merujuk pada sejarah industri kota.
Logo tersebut juga membawa elemen mawar sebagai penghormatan terhadap sejarah lokal, termasuk Salford Lads Club.
Perubahan logo kembali dilakukan dengan melibatkan suara suporter. Sebanyak 72 persen pendukung memberikan suara untuk menyetujui perubahan crest.
Dengan perubahan warna dan crest secara bersamaan, Salford City praktis sedang melakukan rebranding besar-besaran.
Tujuannya bukan sekadar membuat klub terlihat lebih modern, tetapi menciptakan identitas yang bisa digunakan untuk perjalanan jangka panjang.
Stadion Juga Disiapkan untuk Menyambut Era Baru
Transformasi Salford City tidak berhenti pada jersey dan logo.
Stadion mereka juga mendapatkan pembaruan infrastruktur. Sebelumnya, kandang Salford dikenal sebagai Peninsula Stadium, dengan kapasitas sekitar 5.000 penonton.
Dalam visi jangka panjang klub, stadion tersebut bahkan diarahkan untuk berkembang menjadi arena dengan kapasitas sekitar 12.000 penonton apabila ambisi klub terus berkembang.
Peningkatan kapasitas stadion menjadi penting jika Salford benar-benar ingin naik kasta.
Semakin tinggi level kompetisi, semakin besar pula kebutuhan terhadap fasilitas, pemasukan hari pertandingan, basis suporter dan infrastruktur komersial.
Karena itu, pembangunan stadion menjadi bagian dari strategi yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik markas klub.
Peter Cklamovski Jadi Sosok Penting di Era Baru
Perubahan besar juga terjadi di sektor teknis.
Meski Salford menjalani musim sebelumnya dengan performa yang cukup baik dan finis di posisi keempat, Karl Robinson akhirnya meninggalkan klub.
Sebagai gantinya, Salford menunjuk pelatih asal Australia, Peter Cklamovski, sebagai manajer baru pada Juni 2026.
Cklamovski bukan sosok tanpa pengalaman.
Pelatih berusia 47 tahun tersebut memiliki perjalanan panjang di sepak bola Australia dan Jepang. Ia pernah bekerja bersama Ange Postecoglou dan menjadi bagian dari tim Yokohama F. Marinos yang berhasil meraih gelar J1 League.
Ia juga pernah menangani sejumlah klub Jepang seperti Montedio Yamagata, Shimizu S-Pulse dan FC Tokyo, sebelum kemudian menjadi pelatih tim nasional Malaysia.
Kedatangan Cklamovski diharapkan membawa pendekatan sepak bola menyerang sekaligus membangun mentalitas baru di dalam tim.
Paul Scholes mengakui bahwa dirinya awalnya tidak terlalu mengenal Cklamovski. Namun, proses wawancara yang berlangsung panjang akhirnya membuat pelatih Australia tersebut menjadi kandidat yang paling meyakinkan bagi manajemen.
Bagi Salford, pemilihan pelatih menjadi bagian penting dari upaya membangun fondasi sepak bola yang lebih profesional.
Investasi Mulai Terlihat di Bursa Transfer
Ambisi besar tentu membutuhkan dukungan finansial.
Pada musim panas 2026, Salford melakukan perubahan signifikan terhadap komposisi skuad. Klub mendatangkan sejumlah pemain baru untuk memperkuat tim yang diproyeksikan bersaing di League Two musim 2026/27.
Salah satu nama yang paling mendapat perhatian adalah striker Macaulay Langstaff. Selain itu, Salford juga disebut telah mendatangkan total delapan pemain baru dalam upaya memperkuat skuad.
Investasi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan Salford tidak hanya terjadi pada sisi branding.
Klub juga mulai membangun tim yang diharapkan mampu menerjemahkan ambisi pemilik menjadi prestasi di lapangan.
Target terdekat tentu adalah promosi dari League Two.
Namun, jika Salford berhasil naik ke League One dan kemudian Championship, kebutuhan investasi akan semakin besar.
Bukan Lagi Sekadar "Proyek Hobi Selebriti"
Selama bertahun-tahun, Salford City kerap dipandang sebagai proyek para mantan pemain Manchester United.
Julukan seperti "proyek Class of '92" melekat kuat karena keterlibatan David Beckham, Gary Neville, Paul Scholes, Ryan Giggs, Nicky Butt dan Phil Neville.
Akan tetapi, perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa Salford sedang mencoba keluar dari label tersebut.
Pergantian identitas, pembaruan stadion, perekrutan pelatih baru, investasi pemain serta ambisi menuju Championship dan Premier League menunjukkan bahwa klub sedang membangun sistem yang lebih serius.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Salford bisa menjadi klub yang lebih besar.
Pertanyaan sebenarnya adalah seberapa jauh mereka bisa melangkah?
Jalan Menuju Premier League Masih Panjang
Mimpi menuju Premier League tentu tidak mudah.
Salford harus melewati League Two, League One dan Championship sebelum bisa berdiri di kasta tertinggi Inggris. Setiap promosi membawa tuntutan finansial, teknis dan infrastruktur yang semakin besar.
Namun, sepak bola Inggris sudah berkali-kali memperlihatkan bahwa perjalanan dari bawah menuju puncak bukan sesuatu yang mustahil.
Bournemouth menjadi salah satu contoh yang dijadikan inspirasi oleh Scholes.
Kini Salford City mencoba menulis kisahnya sendiri.
Dengan dukungan Beckham, Neville, Scholes dan struktur kepemilikan baru, klub tersebut sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar tim kecil di Greater Manchester.
Warna oranye yang kembali, logo baru, stadion yang terus dikembangkan, pelatih baru dan skuad yang diperkuat menjadi bagian dari satu proyek besar.
Salford City sedang berusaha mengubah statusnya dari klub kecil menjadi klub yang suatu hari nanti layak diperhitungkan di Premier League.
Jika ambisi itu berhasil diwujudkan, perjalanan Salford City dari sepak bola non-league menuju panggung tertinggi Inggris bisa menjadi salah satu kisah paling menarik dalam sejarah sepak bola modern Inggris.

