Ad
Ad

Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun

Nasrullah, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus Ketua Keluarga Mahasiswa Mahasiswa Sampang Yogyakarta (KMSY).

Serikatpost, Kolom - Selama kurang lebih satu bulan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Sumedang, tepatnya di Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara, ada satu hal yang menarik perhatian kami. Setiap kali warga melaksanakan kegiatan gotong royong, baik berupa kerja bakti, membersihkan lingkungan, maupun mempersiapkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus, suasana kebersamaan selalu terasa begitu kuat.

Menariknya, setelah seluruh kegiatan selesai, warga tidak serta-merta pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat setelah lelah bekerja. Sebaliknya, kebersamaan justru berlanjut dalam sebuah jamuan makan yang disiapkan oleh salah seorang warga yang bersedia menjadi tuan rumah atau yang biasa disebut warga sebagai “narik”.

Tradisi makan bersama tersebut dikenal dengan istilah liwetan atau ngaliwet. Hidangan yang disajikan umumnya berupa nasi liwet dengan berbagai makanan pendamping khas Sunda. Meski sederhana, jamuan tersebut mampu menghadirkan kehangatan dan suasana kekeluargaan di tengah masyarakat.

Ngaliwet, Tradisi Kebersamaan yang Terus Dirawat

Tradisi ngaliwet yang berlangsung di Kelurahan Talun menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Tuan rumah yang menyediakan hidangan nasi liwet biasanya bergantian. Namun, tidak ada aturan khusus ataupun jadwal yang mengikat. Siapa pun warga yang bersedia menjadi tuan rumah dapat mengambil peran tersebut.

Tuan rumah biasanya menyiapkan hidangan utama berupa nasi liwet hangat yang dimasak dengan berbagai rempah sehingga memiliki cita rasa khas. Namun, hal yang paling menarik bukan hanya makanan yang tersaji, melainkan semangat berbagi yang muncul secara spontan dari setiap warga.

Warga yang memiliki makanan lebih di rumah tidak segan membawanya untuk dinikmati bersama. Ada yang membawa petai, jengkol, lauk-pauk, bahkan tambahan nasi liwet agar seluruh warga dapat menikmati hidangan tanpa khawatir kekurangan.

Dari sini terlihat bahwa ngaliwet bukan sekadar aktivitas makan bersama. Tradisi tersebut menjadi ruang bagi warga untuk saling berbagi, mempererat hubungan, serta menunjukkan kepedulian terhadap satu sama lain.

Duduk Bersama Tanpa Sekat Status Sosial

Ada sesuatu yang begitu indah dari tradisi ngaliwet di Kelurahan Talun. Ketika warga duduk bersama menikmati hidangan yang telah tersaji, hampir tidak terlihat sekat berdasarkan status sosial.

Tokoh masyarakat, warga biasa, mereka yang berkecukupan maupun warga yang hidup sederhana, semuanya duduk dalam posisi yang sama. Mereka saling menyapa, berbincang, bercanda, dan tertawa bersama.

Kesederhanaan hidangan justru menciptakan suasana yang begitu hangat. Tidak ada kemewahan yang menjadi ukuran kebahagiaan. Yang hadir adalah rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang membuat setiap orang merasa diterima sebagai bagian dari masyarakat.

Dalam suasana seperti itu, nilai kesetaraan tumbuh secara alami. Setiap orang memiliki ruang yang sama untuk berbagi cerita, menikmati makanan, dan membangun hubungan sosial.

Cerminan Filosofi Sunda Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

Dalam kebudayaan Sunda, terdapat tiga prinsip luhur yang menggambarkan nilai dasar dalam membangun hubungan antarsesama, yaitu silih asah, silih asih, dan silih asuh.

Silih asah memiliki makna saling belajar, berbagi pengetahuan, dan saling mengingatkan agar dapat berkembang bersama. Silih asih berarti saling menyayangi, peduli, dan memberikan perhatian kepada sesama. Sementara silih asuh bermakna saling menjaga, membimbing, membantu, dan menciptakan kehidupan bersama yang harmonis.

Tradisi liwetan setelah kegiatan kerja bakti di Kelurahan Talun menjadi cerminan nyata dari ketiga filosofi tersebut.

Ketika warga saling bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan berdiskusi di sela-sela gurauan, nilai silih asah terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, kebiasaan berbagi makanan dan memberikan perhatian kepada sesama tanpa memandang status sosial mencerminkan nilai silih asih.

Adapun semangat bahu-membahu dalam melaksanakan kerja bakti, menjaga lingkungan, serta mempertahankan keharmonisan masyarakat menjadi gambaran dari nilai silih asuh.

Ketiga nilai tersebut seolah melebur secara alami dalam tradisi sederhana bernama liwetan. Tidak perlu ada aturan tertulis atau seremoni khusus untuk menghidupkannya. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui kebiasaan, interaksi, dan rasa kepedulian yang terus dipelihara oleh masyarakat.

Liwetan Bukan Sekadar Makan Bersama

Dari tradisi liwetan tersebut, terdapat pelajaran penting bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mewah. Liwetan bukan sekadar kegiatan untuk mengisi perut setelah lelah bekerja atau menyelesaikan kerja bakti.

Lebih dari itu, liwetan menjadi ruang sederhana untuk menghadirkan kehangatan, mempererat silaturahmi, bertukar cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang mulai jarang ditemui di tengah kehidupan masyarakat yang semakin individualistis.

Bagi kami sebagai mahasiswa KKN, pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri. Duduk bersama warga, menikmati hidangan sederhana, serta menyaksikan bagaimana setiap orang saling berbagi menjadi sebuah pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan pelajaran mengenai arti kehidupan bermasyarakat.

Kami belajar bahwa keharmonisan dan kebahagiaan sebuah masyarakat tidak selalu ditentukan oleh kemewahan makanan ataupun fasilitas yang dimiliki. Justru, kebahagiaan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana ketika setiap orang memiliki kemauan untuk berbagi, peduli, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Tradisi ngaliwet di Kelurahan Talun menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, tradisi sederhana tersebut mampu menjadi jembatan yang menghubungkan warga sekaligus memperkuat rasa persaudaraan.

Semoga tradisi liwetan dan semangat gotong royong di Kelurahan Talun terus terpelihara. Bukan hanya sebagai kebiasaan masyarakat hari ini, tetapi juga sebagai warisan kearifan lokal yang dapat dikenalkan dan diteruskan kepada generasi mendatang.


*) Penulis adalah Nasrullah, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sekaligus Ketua Keluarga Mahasiswa Mahasiswa Sampang Yogyakarta (KMSY).

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun
  • Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun
  • Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun
  • Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun
  • Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun
  • Jalin Silaturahmi Lewat Liwetan, Potret Manis Gotong Royong Warga Kelurahan Talun
Ad
Ad
Ad