PKL PMII DIY Tekankan Tiga Pilar Utama Pembentukan Kader
![]() |
| Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) D.I. Yogyakarta. (Foto: Dok/Ist). |
Serikatpost, Yogyakarta – Pelatihan Kader Lanjut (PKL) yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) D.I. Yogyakarta menekankan pentingnya keseimbangan antara kaderisasi, intelektualitas, dan nilai dalam membangun kualitas kader organisasi.
Hal tersebut disampaikan akademisi Nur Sayyid Santoso Kristeva, M.A. atau Bung Kristeva, saat mengisi sesi bertajuk “Genealogi Paradigma PMII dan Relevansinya Terhadap Perkembangan Zaman.”
Dalam pemaparannya, Bung Kristeva mengibaratkan organisasi pergerakan sebagai sebuah bangunan. Agar dapat berdiri kokoh, organisasi membutuhkan fondasi dan pilar yang saling menopang.
Ia menyebut terdapat tiga pilar penting yang perlu diperhatikan kader, yakni formalitas, intelektualitas, dan nilai.
Pilar formalitas berkaitan dengan proses kaderisasi resmi yang harus dijalani anggota. Kader tidak hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga memahami tahapan pembentukan kapasitas yang telah dirancang secara sistematis.
Sementara itu, pilar intelektualitas berkaitan dengan kemampuan kader mengembangkan pengetahuan dan menyusun gagasan secara rasional. Kemampuan tersebut penting agar aktivis mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana gerakan, tetapi juga mampu menghasilkan pemikiran.
Pilar ketiga adalah nilai. Aspek ini berkaitan dengan kesadaran spiritual yang menjadi dasar bagi kader dalam menentukan sikap dan menjalankan aksi sosial.
Ketiga pilar tersebut kemudian ditempatkan dalam struktur gerakan yang menghubungkan ideologi, strategi, taktik, dan kepemimpinan.
Bung Kristeva menilai, penguatan ketiga aspek tersebut menjadi penting karena aktivis mahasiswa menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, persoalan lingkungan, hingga perkembangan demokrasi membutuhkan kemampuan analisis yang lebih luas.
Karena itu, kaderisasi tidak cukup hanya menghasilkan anggota yang memahami organisasi. Kader juga perlu memiliki kemampuan membaca realitas sosial serta mengambil posisi berdasarkan pengetahuan dan nilai yang dimiliki.
Dalam forum PKL tersebut, peserta diajak memahami bahwa perkembangan organisasi harus berjalan beriringan dengan perkembangan pemikiran kader.
Kerangka berpikir yang dinamis dibutuhkan agar gerakan mahasiswa tetap mampu menjawab perubahan sosial. Dengan demikian, proses kaderisasi dapat menghasilkan aktivis yang memiliki kapasitas intelektual sekaligus kepedulian terhadap masyarakat.
Melalui PKL, PC PMII D.I. Yogyakarta berharap proses penguatan kader dapat menjadi bagian dari upaya melahirkan generasi pergerakan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, wawasan luas, dan orientasi pengabdian kepada masyarakat.
