Ad
Ad

Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online

Sulthan Ahmad Maulana Jurni, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman.

Serikatpost, Kolom — Pemandangan para pedagang yang menunggu pembeli di balik kios perlahan menghadapi tantangan baru. Di tengah kebiasaan masyarakat membeli barang melalui ponsel, para pedagang di Pasar Pagi Samarinda mulai mencoba cara baru untuk memasarkan dagangan mereka dengan menggunakan media digital.

Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perdagangan mulai mendorong langkah tersebut. Pada tanggal 16 September 2026, ada 10 pedagang dari Pasar Pagi yang mengikuti pelatihan tentang pemasaran digital dan penggunaan kecerdasan buatan.

Pelatihan tersebut menjadi cara bagi para pedagang untuk mempelajari bagaimana memasarkan produk menggunakan teknologi. Peserta masing-masing membawa ponsel mereka sendiri, sementara pelatihan diberikan secara gratis dan didukung fasilitas Wi-Fi.

Tapi ada satu hal yang belum bisa dijawab dari pelatihan itu: apakah setelah belajar pemasaran digital, para pedagang benar-benar bisa mendapatkan lebih banyak pembeli?

Belum ada data yang menunjukkan hal itu.

Pemerintah memang telah memulai pelatihan. Namun, belum ada data mengenai jumlah pesanan yang didapat oleh peserta, peningkatan pendapatan, atau berapa banyak pedagang yang akhirnya mulai berjualan secara online.

Artinya, perjalanan dari lapak ke layar masih berada di awal proses.

Ketika Kios Tidak Seramai Harapan

Digitalisasi menawarkan peluang untuk memperluas jangkauan pembeli. Namun bagi para pedagang di Pasar Pagi, masalah penjualan tidak hanya berhubungan dengan promosi saja.

Sebelum membahas cara menarik pembeli melalui internet, masalah yang ada di pasar masih menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Dalam laporan Kaltim Today pada 1 April 2026, beberapa pedagang menyampaikan bahwa pembeli jarang berkunjung ke kios mereka. Beberapa pedagang malah memilih menjual dagangannya di luar area agar lebih mudah dilihat oleh pembeli.

Laporan yang sama juga menyebutkan keluhan terkait dokumen penempatan kios dan retribusi harian.

Kesaksian itu adalah pengalaman dari seorang pedagang yang wawancara oleh media, jadi tidak bisa dianggap sebagai representasi dari semua pedagang di Pasar Pagi. Namun, cerita tersebut menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi oleh pedagang memiliki berbagai tingkat yang kompleks.

Ketika kios tidak ramai, mengunggah foto produk di media sosial bisa membuat barang lebih mudah dicari orang. Namun, promosi tidak secara otomatis mengatasi masalah lokasi kios, biaya operasional, stok, atau kemampuan pedagang dalam memenuhi pesanan.

Bayangkan seorang calon pembeli melihat pakaian yang dijual oleh pedagang Pasar Pagi lewat media sosial.

Ia tertarik.

Ia kemudian bertanya mengenai ukuran dan harga.

Namun, jika pertanyaan tidak langsung dijawab karena pedagang sedang melayani pembeli di kios, kesempatan untuk bertransaksi bisa hilang.

Di sinilah pemasaran digital bukan hanya soal membuat postingan lagi.

Digitalisasi Bukan Sekadar Punya Akun

Kata digitalisasi sering terdengar mudah, tetapi dalam penerapannya justru cukup rumit. Memiliki daftar kios dalam bentuk digital berbeda dengan memiliki daftar produk. Memiliki katalog tidak sama dengan mengelola toko online.

Penjualan melalui internet membutuhkan rangkaian pekerjaan. Pedagang perlu menerima pertanyaan dari pembeli, memastikan stok barang tersedia, menentukan cara pembayaran, mempersiapkan barang tersebut, dan kemudian menentukan apakah barang diambil langsung oleh pembeli atau dikirim ke tempat pembeli.

Kelurahan Pasar Pagi sudah membuat halaman Lapak UMKM yang menampilkan produk serta opsi untuk menghubungi penjual atau melakukan pembelian. Kehadiran fasilitas tersebut menjadi salah satu langkah awal agar produk UMKM bisa ditemukan secara digital.

Namun, halaman tersebut belum memberikan informasi mengenai jumlah transaksi, jumlah pesanan, atau dampaknya terhadap pendapatan para pedagang. Sebab itu, adanya platform digital belum tentu berarti aktivitas perdagangan digital sudah berjalan.

Pedagang yang terdaftar di katalog masih perlu memiliki kemampuan untuk menangani pesanan secara langsung.

Pertanyaan yang penting kini bukan lagi hanya, "Sudah punya akun atau belum?" Pertanyaannya adalah, "Apakah akun itu benar-benar melakukan proses beli dan jual?" Sepuluh Pedagang dan Tantangan Setelah Pelatihan

Pelatihan yang diikuti oleh 10 pedagang adalah bagian awal dari proses tersebut. Dinas Perdagangan mengatakan bahwa kelas lanjutan bisa dibuka jika semangat para pedagang cukup tinggi.

Namun, angka tersebut perlu ditempatkan secara tepat. Sepuluh orang adalah peserta pelatihan tahap pertama, bukan jumlah semua pedagang Pasar Pagi yang sudah bisa masuk ke pasar online. Setelah pelatihan selesai, pekerjaan sebenarnya justru dimulai. Pedagang perlu bisa menerapkan ilmu yang telah dipelajari ketika kembali beraktivitas sehari-hari di toko mereka.

Mereka harus menyediakan informasi produk yang lebih sederhana dan mudah dimengerti. Mereka harus memperbarui stok. Mereka juga perlu memutuskan siapa yang akan menjawab pesan saat sedang melayani pembeli secara langsung. Hal-hal tersebut terdengar mudah, tetapi bagi para pedagang yang bekerja sendiri, tambahan pekerjaan digital artinya tambahan waktu dan usaha.

Karena itu, tindak lanjut pelatihan menjadi penting. Keberhasilan tidak hanya dilihat dari banyaknya orang yang datang, tetapi juga dari kemampuan mereka dalam menggunakan keterampilan tersebut saat berbelanja atau berdagang sehari-hari.

Tidak Harus Langsung Masuk Semua Platform

Pedagang tidak wajib membuka toko secara langsung di berbagai marketplace dan media sosial.

Memulai dengan terlalu banyak saluran justru bisa membuat pekerjaan semakin bertambah. Harga dan stok perlu diperbarui di berbagai tempat. Pesan dari calon pembeli bisa datang dari berbagai sumber sekaligus. Risiko pesanan terlewat pun semakin besar.

Cara yang lebih mudah adalah mulai dari beberapa produk yang sudah siap dijual. Pilih barang yang stoknya, harganya, ukurannya, dan variannya mudah diketahui. Lalu, buat foto yang jelas dan berikan informasi yang diperlukan oleh calon pembeli. Harga, ukuran, warna, ketersediaan, serta cara memesan harus ditulis dengan jelas.

Setelah itu, pilih satu cara berkomunikasi yang bisa diawasi dengan baik. Pedagang juga harus mengetahui cara barang akan diterima oleh pembeli. Jika pembeli mengambil barang langsung di kios, informasinya harus terang dan jelas. Jika ada opsi pengiriman, maka area yang dilayani, biaya, dan durasi pengiriman juga harus diinformasikan dari awal.

Langkah tersebut bukan jaminan omzet akan meningkat. Namun setidaknya, para pedagang bisa mengetahui apakah metode itu benar-benar membantu atau tidak. Selama beberapa minggu, mereka bisa menghitung berapa orang yang bertanya, produk apa yang paling banyak diminati, jumlah pesanan yang telah selesai, serta berapa biaya dan waktu yang dibutuhkan. Dari situ, pedagang bisa memutuskan apakah strategi itu masih bagus atau harus diperbaiki lagi.

Pasar Fisik Belum Kehilangan Perannya

Meskipun pemasaran digital semakin populer, pasar fisik masih memiliki peran yang sulit ditiru. Di kios, pembeli bisa melihat barang secara langsung, mengecek kualitasnya, membandingkan berbagai pilihan, serta berbicara langsung dengan penjual. Oleh karena itu, penjualan online tidak perlu dianggap sebagai pengganti dari pasar tradisional, ia dapat menjadi jembatan.

Calon pembeli dapat mencari produk dengan menggunakan ponsel, lalu menghubungi penjual untuk memastikan bahwa barang tersebut tersedia sebelum datang ke Pasar Pagi. Pelanggan yang sudah pernah berbelanja juga bisa memesan barang lagi tanpa harus datang terlebih dahulu untuk mengecek apakah barang masih ada.

Model seperti ini memudahkan pasar fisik dan ruang digital untuk bekerja sama. Tapi jembatan itu harus dibuat dengan informasi yang jelas. Pembeli harus tahu lokasi kios, harga barang, apakah barang tersedia, cara membayar, serta pilihan antara mengambil barang atau menerima barang. Tanpa itu, promosi digital hanya berhenti pada perhatian. Orang melihat produk, tetapi belum tentu membeli.

Dari Unggahan Menuju Transaksi

Perjalanan pedagang Pasar Pagi ke pasar digital belum berakhir. Pelatihan sudah dimulai. Fasilitas katalog UMKM juga tersedia. Namun, informasi tentang perubahan jumlah pesanan atau peningkatan pendapatan setelah proses digitalisasi belum ada dalam sumber yang digunakan.

Oleh karena itu, keberhasilan suatu program belum bisa dinilai hanya berdasarkan jumlah akun yang dibuat atau foto produk yang diunggah. Ukuran yang lebih nyata justru ada di belakang layar.

Apakah lebih banyak calon pembeli menemukan produk? Apakah pertanyaan mereka dapat dijawab?

Apakah stok tersedia ketika pesanan masuk? Apakah barang dapat diterima sesuai kesepakatan?

Dan apakah waktu serta biaya yang sudah dikeluarkan tetap sesuai dengan hasil yang didapatkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah proses digitalisasi benar-benar memberi manfaat kepada para pedagang. Pada akhirnya, pasar online bukan hanya menggeser foto barang dari toko fisik ke layar ponsel, yang dipindahkan adalah cara pembeli mencari barang, berbicara dengan pedagang, melakukan pembayaran, sampai mendapat barang tersebut.

Bagi para pedagang di Pasar Pagi Samarinda, perjalanan mereka baru saja dimulai. Dari toko fisik ke layar, tantangannya tidak hanya bagaimana produk terlihat oleh pembeli, tetapi bagaimana pembeli yang melihat bisa benar-benar melakukan pembelian.



*) Penulis adalah Sulthan Ahmad Maulana Jurni, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman.


Sumber

Pemerintah Kota Samarinda / Kominfonews, “Pasar Pagi Bangkit, Disdag Dorong Pedagang Go Digital” (2 Oktober 2026). https://jdih.samarindakota.go.id/berita/pasar-pagi-bangkit-disdag-dorong-pedagang-go-digital

Kaltim Today, “Pedagang Pasar Pagi Pilih Berjualan di Luar Lapak Imbas Sepi Pembeli, Pemkot Samarinda Beri Teguran” (1 April 2026). https://www.kaltimtoday.co/pedagang-pasar-pagi-pilih-berjualan-di-luar-lapak-imbas-sepi-pembeli-pemkot-samarinda-beri-teguran

Kelurahan Pasar Pagi, “Lapak UMKM.” https://kel-pasar-pagi.samarindakota.go.id/umkm

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online
  • Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online
  • Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online
  • Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online
  • Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online
  • Dari Lapak ke Layar: Pedagang Pasar Pagi Samarinda Mulai Memburu Pembeli Online
Ad
Ad
Ad