Ad
Ad

Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan

Faisal Tahadju, ST., M.Si., C.CTr., CPSE, CSDP, CPS, C.Neg.  (Foto: Dok/Ist). 

Serikatpost, Sulawesi Tengah Di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi perubahan iklim, penguatan kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kebutuhan yang semakin penting. Di tengah tantangan tersebut, sosok aparatur sipil negara (ASN) yang memiliki kompetensi teknis, kemampuan komunikasi, serta kepedulian terhadap edukasi kebencanaan memiliki peran strategis.

Salah satu figur yang menaruh perhatian pada bidang tersebut adalah Faisal Tahadju, ST., M.Si., C.CTr., CPSE, CSDP, CPS, C.Neg. Pria kelahiran 5 April 1985 ini merupakan ASN berpangkat Pembina, IV/a Selaku Analis Bencana /Penelaah Teknis Kebijakan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, dengan pengalaman dan perhatian pada bidang manajemen risiko kebencanaan, perencanaan, komunikasi strategis, serta literasi digital.

Perjalanan Faisal menunjukkan bagaimana kompetensi birokrasi dapat dikembangkan tidak hanya melalui pengalaman kedinasan, tetapi juga pendidikan, pelatihan, inovasi teknologi, dan keterlibatan langsung dalam edukasi masyarakat.

Latar Belakang Akademik yang Menjadi Fondasi

Komitmen Faisal terhadap bidang perencanaan dan kebencanaan ditopang oleh latar belakang akademik yang memadukan pendekatan teknis dan perencanaan strategis.

Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Sipil (S.T.) pada 2007, kemudian melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar Magister Sains (M.Si.) bidang ilmu perencanaan pada 2011.

Kombinasi ilmu teknik sipil dan perencanaan menjadi modal penting dalam memahami persoalan pembangunan, tata ruang, infrastruktur, serta risiko yang dapat muncul akibat kondisi lingkungan dan perubahan iklim.

Pengembangan kompetensi tersebut juga terus dilakukan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan. Pada 2026, Faisal tercatat mengikuti sejumlah pelatihan kedinasan, termasuk Diklat Konservasi Lingkungan dan Pengendalian Perubahan Iklim dengan durasi 40 jam pelajaran (JP), serta pelatihan terkait manajemen kontrak konstruksi melalui BPSDM Jawa Barat.

Pengembangan kapasitas secara berkelanjutan menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi karakter bencana yang terus berubah.

Fokus pada Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana

Dalam aktivitasnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, Faisal memberikan perhatian pada penguatan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk sistem peringatan dini (early warning system) dan pemetaan kawasan yang memiliki potensi risiko bencana.

Menurut pendekatan kebencanaan modern, masyarakat tidak cukup hanya dibekali pengetahuan mengenai tindakan ketika bencana terjadi. Edukasi perlu dilakukan sejak sebelum bencana agar masyarakat mampu mengenali ancaman, memahami jalur evakuasi, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Karena itu, edukasi dan simulasi lapangan menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kapasitas masyarakat.

Faisal turut terlibat dalam kegiatan simulasi dan edukasi penanggulangan berbagai ancaman bencana, mulai dari banjir, tanah longsor hingga gempa bumi. Pelaksanaannya dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai unsur, termasuk TNI, BPBD, pemerintah desa, dan masyarakat.

Pendekatan kolaboratif tersebut mencerminkan pentingnya keterlibatan banyak pihak dalam membangun ketangguhan masyarakat.

Menggabungkan Edukasi Kebencanaan dengan Teknologi Digital

Perkembangan teknologi informasi juga membuka ruang baru dalam penyebarluasan edukasi kebencanaan. Informasi mengenai mitigasi, kesiapsiagaan, hingga langkah evakuasi dapat disampaikan secara lebih cepat melalui platform digital.

Dalam konteks tersebut, Faisal mengembangkan website dan aplikasi edukasi kebencanaan melalui wuaze.com sebagai salah satu sarana untuk membantu masyarakat mendapatkan informasi mengenai kebencanaan secara mandiri.

Pemanfaatan teknologi digital memiliki nilai strategis karena informasi kebencanaan harus mudah dipahami, mudah diakses, dan tersedia ketika masyarakat membutuhkannya.

Digitalisasi edukasi juga dapat menjadi pelengkap bagi kegiatan simulasi langsung. Dengan begitu, pembelajaran mengenai kebencanaan tidak berhenti setelah sebuah kegiatan lapangan selesai, tetapi dapat dipelajari kembali melalui media digital.

Komunikasi Strategis dan Pendekatan Pentahelix

Faisal memandang penanggulangan bencana sebagai pekerjaan bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat atau komunitas, serta media.

Tidak ada satu institusi yang mampu menangani seluruh persoalan kebencanaan seorang diri. Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya, akademisi menyediakan pengetahuan, dunia usaha dapat mendukung sumber daya dan inovasi, komunitas memiliki kekuatan sosial di tingkat masyarakat, sementara media berperan dalam penyebarluasan informasi.

Kemampuan komunikasi menjadi faktor penting agar koordinasi lintas sektor tersebut dapat berjalan secara efektif.

Untuk memperkuat kapasitasnya, Faisal juga mengembangkan kompetensi komunikasi profesional. Salah satunya melalui sertifikasi C.Neg (Certified Negotiator) dari LKP Miftah Academy Indonesia pada Agustus 2026, selain sejumlah kompetensi profesional lain yang tercantum dalam profilnya, seperti C.CTr, CPSE, CSDP, dan CPS.

Menuangkan Gagasan Kebencanaan melalui Tulisan

Selain bekerja melalui jalur birokrasi dan kegiatan lapangan, Faisal juga menggunakan media sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai kebencanaan dan pembangunan.

Sejumlah tulisannya mengangkat isu kesiapsiagaan, pentingnya data, serta perubahan paradigma dalam menghadapi bencana. Di antaranya adalah “Mengubah Paradigma Bencana: Dari Respons Reaktif Menuju Kesiapsiagaan Kolektif” dan “Negeri dalam Lingkar Bencana: Ketika Data Tak Lagi Sekadar Angka.”

Tulisan pertama menyoroti pentingnya menggeser orientasi penanggulangan bencana dari pendekatan reaktif menuju pencegahan dan kesiapsiagaan. Sementara tulisan kedua menekankan pentingnya kualitas data teknis sebagai dasar dalam memahami serta mengantisipasi risiko bencana.

Gagasan tersebut menjadi semakin relevan ketika berbagai daerah di Indonesia menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang membutuhkan kebijakan berbasis data.

Membangun Masyarakat yang Sadar Risiko

Kesiapsiagaan bencana pada akhirnya bukan hanya persoalan pemerintah atau lembaga penanggulangan bencana. Masyarakat merupakan bagian terpenting karena menjadi kelompok yang berada paling dekat dengan risiko ketika bencana terjadi.

Karena itu, literasi kebencanaan perlu dibangun secara berkelanjutan. Masyarakat perlu mengetahui potensi ancaman di wilayah tempat tinggalnya, memahami sistem peringatan dini, mengetahui lokasi evakuasi, serta memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri dan membantu kelompok rentan.

Dalam konteks tersebut, pendekatan yang dilakukan Faisal melalui perpaduan ilmu teknik, perencanaan, edukasi lapangan, teknologi digital, dan komunikasi strategis menunjukkan pentingnya kompetensi multidisipliner dalam manajemen kebencanaan.

ASN Modern yang Hadir di Tengah Masyarakat

Perjalanan Faisal Tahadju menggambarkan bahwa peran ASN pada era modern tidak terbatas pada aktivitas administratif di belakang meja. ASN juga dituntut mampu memahami persoalan masyarakat, mengembangkan inovasi, membangun kolaborasi, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Dalam bidang kebencanaan, kontribusi tersebut memiliki arti yang sangat penting karena keberhasilan mitigasi tidak hanya diukur dari kemampuan merespons bencana, tetapi juga dari seberapa banyak risiko yang dapat dikurangi sebelum bencana terjadi.

Dedikasi terhadap edukasi kebencanaan, penguatan kesiapsiagaan, pemanfaatan teknologi digital, serta komunikasi publik menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh.

Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kompleksitas ancaman bencana, figur profesional seperti Faisal Tahadju menjadi contoh bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui kompetensi, inovasi, kolaborasi, dan kepedulian terhadap keselamatan manusia.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan
  • Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan
  • Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan
  • Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan
  • Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan
  • Mengabdi untuk Kemanusiaan: Faisal Tahadju dan Dedikasinya dalam Manajemen Kebencanaan
Ad
Ad
Ad